Minggu, 26 Februari 2012

Ucapan Syukur Untuk Tuhan

(“Terima kasih Tuhan, kami bersyukur atas semua itu. Semua yang telah kami lakukan dan kami terima “)

Suatu tempat yang memang tak pernah aku ketahui sebelumnya, hanya sebuah nama besar yang memang sering terngiang di telingaku sebagai seorang pecinta alam (Terdaftar dalam buku induk Pecinta Alam SMA Negeri 1 Probolinggo, PLASMA). Sebuah tempat yang ditindihi batuan belerang dengan tanah yang halus berwarna coklat dan dihinggapi oleh berbagai macam tumbuhan (baik herba maupun pohon) yangmana masing-masing pohon dibocengi oleh puluhan kera yang selalu asik memainkan kesibukan mereka. Suatu tempat dengan hawa dingin yang selalu dan akan tetap begitu, menusuk tulang belulang yang bertahan dalam kulit sampai ke ubun-ubun namun tetap tak kehilangan rasa hangat yang terus menyebar dengan semerbak dari perhatian dan kesopanan warga disekitar daerah itu. Sapaan santai tapi penuh arti selalu terlontar dan seraya mengucapkan doa.

Desa Kesingan, dusun di Lereng Gunung Merbabu yang selalu dilalui jika ingin mendaki melalui salah satu jalur yaitu Wekas. Suatu desa yang bertanah subur dan selalu dipenuhi warna hijau dari kubis dan coklat dari puluhan kentang serta abu-abu dari puluhan batu nisan yang tertancap diatasnya.


Di sekitar batu nisan itu lah kami mengawali perjalanan yang terlalu pahit untuk dikenang tapi terlalu bodoh untuk dilupakan, perjalanan yang merupakan sarana untuk menikmati secuil kuasa Tuhan dan sekaligus sarana untuk selalu bersyukur pada Sang Pencipta. Dengan lantunan doa yang dirapal oleh setiap kami, pendakian Gunung Merbabu (3142 Mdpl) kami lalui, dengan harapan yang sama yaitu kami (aku, Ian dan Rizal) saling berjabat tangan, bersyukur dan berdoa di puncak tertinggi gunung tersebut.

Persimpangan jalan, inilah yang selalu kami khawatirkan dalam pendakian gunung, karena salah ambil keputusan, hanya maut yang akan menunggu di ujung jalan. Tapi semua itu dapat kami lalui dengan bantuan seorang warga sekitar yang berprofesi sebagai pencari kayu bakar, kembali dengan penuh kehangatan beliau menunjukkan jalan mana yang harus kami pilih dan kami lalui. Pendakian berlanjut disertai dengan nafas yang tersenggal dan nyeri di lutut dan pundak yang selalu menggelayuti disela-sela rasa syukur kami akan pemandangan yang Tuhan suguhkan kepada kami, puluhan rumah berjajar dengan rapinya dan diikuti barisan pohon-pohon pinus yang melambai seolah menyapa. Ditengah pendakian itu, kami bertemu dengan seorang warga yang menjunjung kayu bakar, beliau meminta roti dan permen, entah apa modus dari tindakan yang dilakukan warga ini, tapi semua itu kembali dilakukan dengan penuh kehangatan dan kesopanan yang tetap terpancar. Tak lama setelah itu kami sampai di suatu dataran yang orang-orang sebut sebagai Pos pendakian 2, dimana penuh dengan air yang mengalir dari sela-sela pipa penyalur air. Hamparan rerumputan hijau dan hujan kabut yang tebal serta 3 potong roti sisir menemani dalam peristirahatan kami yang mulai lelah.

Perjalanan kami lanjutkan dengan gelak tawa dan senyum yang tetap tersungging di mulut kami masing sambil melontarkan lelucon-lelucon, entah bodoh apa gila, yang biasa kami ucapkan. Dalam perjalanan ini pula kami merasakan jalan setapak yang bukan seperti jalan tapi sudah seperti tebing, batuan besar-kecil yang tersusun vertikal dengan kemiringan hampir 90o sehingga untuk melaluinya kami harus memanjat seperti menaiki tangga. Denga penuh kesabaran dan harapan kami melanjutkan perjalanan dan sampai di suatu Pos yang orang sebut Halipad. Di sini kami mendirikan tenda sambil berunding apa yang akan kami lakukan selanjutnya, entah pergi ke puncak atau bertenda di sana semalam. Akhirnya kami sepakat bahwa kami akan berangkat ke puncak dengan meninggalan barang dalam tenda di pos tersebut, namun semuanya berubah pada saat hujan turun dengan gagahnya dan angin saling berlomba untuk bertiup. Kami memutuskan untuk turun selain karena cuaca tetapi juga karena menipisnya bahan makanan yang kami bawa, kami bukan sengaja membawa makanan yang sedikit tapi karena pada saat itu adalah tanggal tua bagi kami sebagai seorang mahasiswa yang masih menunggu kiriman uang dari orang tua.

Setelah packing, kami berdoa kemudian turun kembali ke base camp pendakian gunung merbabu disertai dengan hujan petir yang semakin kesetanan menghantui kami bertiga. Dalam perjalanan kembali, jatuh merupakan suatu hal yang biasa dan kami nyaman dalam melakukannya karena itu salah satu hiburan yang dapat kami saksikan bersama. Setelah menempuh jalan setapak yang telah kami lewati sebelumnya kami sampai di base camp awal pendakian dan menikmati yang namanya kehangatan kembali yang selalu dipancarkan oleh masyarakat di Desa Kesingan dan terima kasih Tuhan, kami bersyukur atas semua itu. Semua yang telah kami lakukan dan kami terima (meskipun kami mendaki tak sampai puncak, tapi kami telah melihatnya). Setelah kami membersihkan diri, kami makan dengan lahapnya bagai macan yang penuh kebringasan mencabik-cabik mangsanya, membabibuta dan penuh keserakahan.

Melalui pendakian ini, kami mengetahui wujud yang harus kami syukuri dari Tuhan, yang selama 6 hari Ia ciptakan, dari terang sampai dengan manusia. Serta kami mengetahui rasa yang lebih dari persaudaraan diantara kami bertiga dan kami juga mengetahui bagaimana alam memperlakukan manusia yang penuh dosa ini. Dan dari itu semua tersebar senyum disertai dengan harapan dan doa untuk menggapai Puncak tertinggi dari Gunung Merbabu, Klentheng songo, suatu saat nanti meskipun kami yakin bahwa puncak bukanlah segalanya yang harus dicapai dan ditaklukkan.

Rabu, 01 Februari 2012

entah.

Aku ingin seperti ranting yang tak pernah iri pada ribuan cabang ranting yang lain yang terus memanjang dan menjadi daun yang tak pernah dendam pada jutaan daun yang lain. Yang terus melebar dan terus berguguran. Serta menjadi buah yang tak akan menahan buah lain untuk tetap berbuah dan memikat. Aku mau menjadi pohon lalu kita menjadi hutan di tengah sahara. Apakah pun itu inginmu?..
Aku pun ingin menjadi seonggok partikel yang menyublim lalu melebur cepat dalam jiwamu dan menjadi unsur positif yang membaur sempurna dalam nalurimu. Apakah itu pun anganmu?..
Aku pun ingin menjadi embun yang terus hadir dalam alam dan akan terus basah sampai kapan pun, aku juga ingin menjadi induk dari burung - burung yang selalu bersinar bagi yg terkasih, minimalis tak terkikis, meski kecil tapi tak terurai. Apakah pun harapmu, citamu dan mimpimu? ENTAH!!

Sabtu, 30 Juli 2011

Cermin, Gelas dan Piring


     Untuk orang yang tinggal di dunia pasti merasa aneh dengan keadaan ini : tumpukan kaca jatuh ke bumi dalam keadaan yang sangat mengerikan, banyak, tajam dan berukuran mikroskopis yang tak satu matapun dapat mengelak darinya, perih, sakit dan pedih bukan main. Fenomena ini belum pernah terjadi di Negara manapun di seluruh dunia sebelum suatu negeri antah berantah mengalaminya dan menjadi headline di berbagai macam surat kabar di hampir seluruh belahan bumi. Banyak orang mengira ini adalah ancaman sekaligus cambuk dari Tuhan atas umatnya yang lalai dan tidak taat pada ajarannya¸ada juga seorang ilmuan gila yang mengatakan serta menjelaskan bahwa ini adalah fenomena yang terjadi akibat dari infasi yang dilakukan makhluk luar angkasa –seperti alien- terhadap bumi manusia. Namun sampai matahari terbenam sampai ke 3 kalinya tak ada yang mampu menyatakan dan menerangkan secara gamblang tentang fenomena –entah alam atau spiritual- ini.
     Keadaan yang mengerikan ini berlanjut dengan terjadinya kerusakan organ mata yang sangat parah pada seluruh manusia yang berada di negeri antah berantah tersebut, mereka tidak mampu melihat satu dengan yang lain, tak mampu melihat matahari terbit dan terbenam serta tidak mampu bekerja sesuai rutinitas mereka. Mereka bingung dan berteriak-teriak entah mereka takut ataupun mereka berdoa pada Tuhan mereka. Keadaan ini lagi-lagi menjadi santapan hangat seluruh media di belahan bumi manapun, negeri antah berabtah yang awalnya tak tercantum pada peta mendadak terkenal dengan title negeri seribu kaca. Tak ada bantuan yang mereka dapat karena seluruh manusia di bumi ini merasa takut untuk hadir, meskipun sebenarnya hati mereka tergerak dan iwa social mereka terketuk tapi keadaan merubah segalanya yang mereka rasakan.
     Hingga hadirlah seorang gadis jelita dengan berani menembus tirani ketakutan yang selama ini menyelimuti seluruh manusia di bumi. Tiada yang tau dari mana asal muasal gadis tersebut sebelumnya. Ia rela menyerahkan seluruh jiwanya untuk membantu seluruh warga negeri yang mengalami kebutaan tersebut. Ia membantu semua pekerjaan setiap orang entah pria maupun wanita setiap hari tanpa mempedulikan kebutuhannya, mereka menyebutnya Gadis Kaca, ia seperti sayap untuk seekor kupu-kupu, kelopak pagi setangkai bunga mawar dan matahari yang terbit  untuk dunia ini setiap hari. Tapi, sebagai manusia yang memiliki hikmat akal budi mereka tak serta merta mempercayai sosok tersebut, banyak yang beranggapan bahwa ia adalah seorang makhluk yang tidak berasal dari dunia ini, ada pula seorang pastur yang menganggap ia adalah jelmaan seorang malaikat yang memang diutus Tuhan untuk membantu manusia. Entah, orang menganggap apa sosok gadis kaca ini tapi ia telah menunjukkan pada dunia bahwa kasih sayang dan keberanian yang ia berikan telah membuka dan mengetuk pintu hati setiap manusia tentang arti hidup yang sebenarnya.
     Namun keberanian dan kebaikan seorang gadis kaca tak berlangsung lama di dunia ini, ia harus berlalu dan kembali kepada empunyanya yang memberikan kesempatan baginya untuk membantu sesamanya dan mengajarkan hakikat kita sebagai manusia di dunia ini. Gadis kaca hadir sebagai cermin bagi kita umat yang disebut manusia untuk mengerti bagaimana sebenarnya kita sesungguhnya, ia juga sebagai gelas serta piring yang memang berguna dan digunakan oleh manusia sehari-hari. Ia memang benar seorang malaikat, malaikat dunia, malaikat manusia

                                                                                                -dolerictus-

Jumat, 29 Juli 2011

Untuk seorang sahabat..

     Sebuah pesan yang tak sengaja ku tulis, dan tak mengharap ku tulis sebelumnya. tapi sepertinya keyboardku kerasukan seonggok jin yang tak menggubris aturan, dan..... terungkaplah juga. "Berharaplah teguh meski dihantam gagahnya ombak, Gadis Karang". aku tau jalan hidupmu-mekipun tak seluruhnya-penuh liku, penuh tawa, maupun tangis, penuh ego dan perasaan yang sebenarnya standar dirasakan sebuah makhluk berwujud manusia, tapi ku lihat berbeda padamu, sahabat, yang tak putus asa sedikitpun meski sebenarnya pantas untuk putus asa. Jadi tataplah terus kehidupanmu karena masih banyak yang perlu ditempuh dan dijalani, sendiri, bersama, dan denganku sahabat.
     Pesanku ini pesanmu juga, yang bermata dua dan tengah menatapku dan menatapmu sampai kapanpun. Jika harapan itu merupakan kesalahan, mari kita ulangi kesalahan itu secara terus menerus. Tetap semangat dalam ranah kefanaan yang mereka sebut kehidupan !!!



                                                                                                                                        -dolerictus-